udah hampir setahun Bob tinggal di tempat kost bu Merry. Bisa tinggal di tempat kost ini awalnya secara tidak sengaja ketemu bu Merry di pasar. Waktu itu bu Merry kecopetan, trus teriak dan kebetulan Bob yang ikut menolong menangkap copet dan mengembalikan dompet bu Merry. Trus ngobrol sebentar, kebetulan Bob lagi cari tempat kost yang baru dan bu Merry mengatakan dia punya tempat kost atau bisa di bilang rumah bedengan yang dikontrakkan, yah jadi deh tinggal di kost-an bu Merry.
Bu Merry lumayan baik terhadap Bob, kelewat baik malah, karena sampai saat ini Bob sudah telat bayar kontrak rumah 3 bulan, dan bu Merry masih adem-adem aja. Mungkin masih teringat pertolongan waktu itu. Tapi justru Bob yang gak enak, tapi mau gimana, lha emang duit lagi seret. akhirnya Bob lebih banyak menghindar untuk ketemu langsung dengan bu Merry.
Sampai satu hari…… waktu itu masih sore jam 4. Bob masih tidur-tiduran dengan malasnya di kamarnya. Tempat kost itu berupa kamar tidur dan kamar mandi di dalam. Terdengar pintu kamarnya di ketok… tok..tok..tok.. lalu suara bu Merry yang manggil,”Bob…Bob… ada di dalem gak?” Sontak Bob bangun, wah bisa berabe kalo nanyain duit sewa kamar nie, pikir Bob.
Dengan cepat meraih handuk, pura-pura lagi mandi aja ah, ntar juga bu Merry pergi sendiri. Setelah masuk kamar mandi kembali terdengar suara bu Merry,” Bob lagi tidur ya..?” dan dari kamar mandi Bob menyahut sedikit teriak,” lagi mandi bu….”
Sesaat tidak ada sahutan, tapi kemudian suara bu Merry jadi dekat,”ya udah mandi aja dulu Bob, ibu tunggu di sini ya…” eh ternyata masuk ke kamar, Bob tadi gak mengunci pintu. “busyet dah, terpaksa bener-bener harus mandi nie,”pikir Bob.
Sekitar lima belas menit Bob di kamar mandi, sengaja mandinya agak dilamain dengan maksud siapa tau bu Merry bosan trus gak jadi nunggu. Tapi rasanya percuma lama-lama toh bu Merry sepertinya masih menunggu. Akhirnya keluar juga Bob dari kamar mandi, dengan hanya handuk yang melilit di pinggang, tidak pakai celana dalem lagi, maklum tadi gak sempet ambil karena terburu-buru.
Bu Merry tersenyum manis melihat Bob yang salah tingkah,”lama juga kamu mandi ya Bob…” bu Merry membuka pembicaraan.
“pasti bersih banget mandinya ya…” gurau bu Merry sambil sejenak melirik dada bidang Bob.
“ah ibu bisa aja… biasa aja kok bu.., oia ada apa ya bu..?” jawab Bob sekenanya saja sambil mengambil duduk di pinggiran tempat tidur.
Bu Merry mendekat dan duduk di samping Bob, “Cuma mau ngingetin aja, uang sewa kamarmu dah telat 3 bulan lho… trus mau ngobrol-ngobrol aja sama kamu, kan dah lama gak ngobrol, kamu sie pergi mlulu…”ucap bu Merry.
Bob jadi kikuk,”wahduh… kalo uang sewanya ntar aku bayar cicil boleh gak bu? Soalnya lagi seret nie…” jawab Bob dengan sedikit memohon.
Bu Merry terlihat sedikit berpikir…”mmmm… boleh deh, tapi jangan lama-lama ya… emang uangmu di pakai untuk apa sie?” terlihat bu Merry sedikit menyelidik.
“hmmm… pasti buat cewe mu ya…”dia terlihat kurang senang.
“ah nggak juga kok bu….. saya emang lagi ada keperluan,” jawab Bob hati-hati melihat raut wajah bu Merry yang kurang senang.
“huh…laki-laki sama aja, kalo lagi ada maunya, apa aja pasti di kasih pada perempuan yang lagi di dekatinya, hhhh… sama aja dengan suamiku….”keluh bu Merry dengan nada kesal.
Waduh nampaknya bu Merry lagi marahan nie sama suaminya, jangan-jangan amarahnya ditumpahkan pula sama Bob. Dengan cepat Bob menjawab,”tapi saya janji kok bu, akan saya lunasi kok…”
“hhhhh….”bu Merry menghela nafas,”udahlah Bob, gak apa-apa kok, gak di bayar juga kalo buat kamu ga masalah… ibu Cuma lagi kesel aja sama suamiku, dia cuma perhatiannya sama Marni terus… aku seperti gak dianggap lagi, mentang-mentang Marni jauh lebih muda ya.”
sedikit penjelasan bahwa bu Merry ini istri pertama dari pak Kardi, sedangkan istri keduanya bu Marni. Dan sekarang sepertinya pak Kardi lebih sering tinggal di rumahnya yang satu lagi bersama bu Marni dan bu Merry tampaknya udah mulai kesepian nie
“wah kalo masalah keluarga sie aku kurang paham bu…. “jawab Bob kikuk
“gak apa-apa Bob, ibu hanya mau curhat aja sama kamu… boleh kan Bob?” suara bu Merry sendu. Agak lama terdiam, terdengar tarikan nafas bu Merry terasa berat, dan sedikit sesunggukan, waduh lama-lama bisa nangis nie, gawat dong pikir Bob.
“udah bu jangan terlalu dipikirkan, nanti juga pak Kardi kembali lagi kok, kan ibu juga gak kalah cantiknya sama bu Marni,”Bob bermaksud menghibur.
“ah kamu Bob… emang ibu masih cantik menurutmu?” bu Merry menatap sendu ke arah Bob, terlihat dua butir air mata mengalir di pipinya. Uhh…. ingin rasanya Bob menghapus air mata itu, pak Kardi emang keterlaluan masa wanita cantik nan elok seperti ini dianggurin sie, coba Bob bisa berbuat sesuatu… busyet… Bob memaki dalam hati… “kenapa otak gwa jadi kotor gini.”
Dengan sedikit gugup Bob menjawab,”mmm…eee…iya kok bu, ibu masih cantik, kalo masih gadis mungkin aku yang duluan tergoda.
” Uupsss …. Maksud hati ingin menghibur, tapi kenapa kata-kata yang menggoda yang keluar dari mulut… gerutu Bob dalam hati. Bob jadi panik, jangan-jangan bu Merry marah dengan ucapan Bob. Tapi ternyata Bob salah, karena bu Merry tersenyum, manis sekali dengan deretan gigi yang putih dan rapi, ”ih Bob bisa aja menghibur…. Iya juga sie, kalo masih gadis bisa aja tergoda, pantes aja suamiku gak ngelirik aku lagi, bis nya dah tua sie…”
Rona wajah bu Merry berubah sedih lagi,”kalo menurutmu Bob, apa ibu emang gak menarik lagi…?” sambil berdiri dan memperhatikan tubuhnya kemudian menatap Bob minta penilaian. Terang aja Bob makin kikuk,”wah aku mau ngomong apa ya bu…? Takutnya nanti di bilang lancang lho… tapi kalo mau jujur…. Ibu cantik banget, seperti masih 30an deh.”
Bu Merry tampaknya senang dengan pujian itu,”hmmm.. kamu ada-ada aja saja… ibu udah 43 lho.. emang Bob liat dari mananya bisa bilang begitu?”
Bob jadi cengar cengir,” ….itu penilaian laki-laki lho bu, saya malu bilangin nya.”
Bu Merry kembali duduk mendekat, sekarang malah sangat dekat hampir merapat ke Bob sambil berkata,” ah.. gak perlu malu…. Bilang aja…”
Nafas Bob terasa sesak, badan nya terasa panas dingin menghadapi tatapan bu Merry, matanya indah dengan bulu mata yang lentik, sesaat kemudian Bob mengalihkan pandangan ke arah tubuh bu Merry mencari alasan penilaian tadi, uups baru deh Bob memperhatikan bahwa bu Merry memakai baju terusan seperti daster tapi dengan lengan yang berupa tali dan diikat simpul di bahunya.
Hmmm .. kulit itu mulus kuning langsat dengan tali baju dan tali bra yang saling bertumpuk di bahu, pandangan Bob beralih ke bagian depan uupss… terlihat belahan dada yang hmmm… sepertinya buah dada itu lumayan besar. Sentuhan lembut tangan bu Merry di paha Bob yang masih dibungkus handuk cepat menyadarkan Bob. Dengan penuh selidik bu Merry bertanya,”lho… kok jadi bengong sie..? apa dong alasannya tadi bilang ibu masih 30an…”
Bob sedikit tergagap karena merasa ketahuan terlalu lama memandangi tubuh bu Merry,”mmm… eeemm.. ibu benar-benar masih cantik, kulitnya masih kencang… masih sangat menggoda…”
Tidak ada jawaban dari mulut bu Merry, hanya pandangan mata yang kini saling beradu, saling tatap untuk beberapa saat… dan seperti ada magnet yang kuat, wajah bu Merry makin mendekat, dengan bibir yang semakin merekah. Bob pun seakan terbawa suasana, dan tanpa komando lagi, Bob menyambut bibir merah bu Merry.
Desahan nafas mulai terasa berat hhhh…hhhh…ciuman terus bertambah dahsyat, bu Merry menjulurkan lidahnya masuk menerobos ke mulut Bob, dan dibalas dengan lilitan lidah Bob sehingga lidah tersebut berpilin-pilin dan kemudian deru nafas semakin berat terasa.
Dengan naluri yang alami, tangan Bob merambat naik ke bahu bu Merry, dengan sekali tarik, terlepas tali pengikat baju di bahu tersebut dan dengan lembut Bob meraba bahu bu Merry sampai ke lehernya…. Kemudian turun ke arah dada, dengan remasan lembut Bob meremas payudara yang masih terbungkus bra itu.
“hhhhh…hhhh” nafas bu Merry mulai terasa menggebu, nampaknya gairah birahinya mulai memuncak. Jemari lentik bu Merry tak ketinggalan meraba dan mengelus lembut dada Bob… melingkari pinggang Bob, mencari lipatan handuk, hendak membukanya…
Uupps…. Bob tersentak dan sadar….,”ups…hhh… maaf bu… maaf bu… saya terbawa suasana….” Bob tertunduk tak berani menatap bu Merry sambil merapikan kembali handuknya, baru kemudian dengan sedikit takut melihat ke arah bu Merry.
Terlihat bu Merry pun agak tersentak, tapi tidak berusaha merapikan pakaiannya, sehingga tubuh bagian atas yang hanya tertutup bra itu dibiarkan terbuka. Pemandangan yang menakjubkan. “napa Bob… kita sudah memulainya… dan kamu sudah membangkitkan kembali gairah ibu yang lama terpendam… kamu harus menyelesaikannya Bob…” tatapan bu Merry terlihat semakin sendu.
“mmm… ibu gak marah..? gimana nanti kalo ada yang lihat bu… bisa gawat dong… pak Kardi juga bisa marah besar bu…” jawab Bob.
Tanpa menjawab bu Merry bangkit berdiri, namun karena tidak merapikan pakaiannya, otomatis baju terusan yang dipakai jadi melorot jatuh ke lantai. Bob terpana melihat tubuh indah itu, sedikit berlemak di perut dan bokongnya namun itu malah menambah seksi lekuk tubuh bu Merry. Kemudian dengan tenang bu Merry melangkah ke arah pintu kamar dan menguncinya.
Saat berjalan membelakangi Bob itu nampak gerakan bokong bu Merry naik turun, dan perasaan Bob semakin tegang dengan nafsu yang semakin tak tertahankan, demikian juga saat bu Merry berbalik dan melangkah kembali menuju tempat tidur, Bob tidak melepaskan sedikit pun gerakan bu Merry. Sampai bu Merry berdiri dekat di depan Bob dan berkata,”kamarnya udah di kunci Bob, dan gak ada yang akan mengganggu….”
Bob tidak langsung menjawab, menghidupkan tape dengan suara yang agak besar, setidaknya untuk menyamarkan suara yang ada di ruangan. Bu Merry kembali duduk di pinggiran tempat tidur, dan membuka bra yang digunakannya. Bob mendekat dan duduk di samping bu Merry… hmmm… nampak payudara itu masih montok dan kenyal, ingin Bob langsung melahap dengan mulut dan menjilatnya.
Bu Merry yang memulai gerakan dengan melingkarkan lengannya ke leher Bob, menarik wajah dan langsung melumat bibir Bob dengan nafsu yang membara. Bob membalas dengan tidak kalah sengit, sambil meladeni serangan bibir dan lidah bu Merry, tangan Bob meremas payudara montok milik bu Merry. Desahan nafas menderu di seputar ruangan, diselingi alunan musik menambah gairah.
Setelah beberapa saat, bu Merry mendorong lembut badan Bob, menyudahi pertempuran mulut dan lidah, dengan nafas yang memburu. Bob mendorong lembut tubuh bu Merry, berbaring terlentang dengan kaki tetap menjuntai di pinggiran tempat tidur. Dada yang penuh dengan gunung kembar itu seakan menantang dengan puting yang telah tegang.
Tanpa menunggu lagi Bob melaksanakan tugasnya menjelajahi gunung kembar itu mulai dari lembah antara, melingkari dan menuju puncak puting. Dengan gemas Bob menyedot dan memainkan puting susu itu sambil tangan meremas payudara kembarannya ………………… “HHHH…. AHHH….MMMH….”suara bu Merry mulai kencang terdengar, desahan-desahan nikmat yang semakin menggairahkan.
Bob melanjutkan penjelajahan dengan menyusuri lembah payudara menuju perut dan sebentar memainkan lidah pada udel bu Merry yang menggelinjang kegelian.
Bob menghentikan penjelajahan lidah, kemudian dengan cekatan menarik celana dalam bu Merry, melepaskan dan membuang ke lantai. Dengan spontan bu Merry mengangkat kaki ke atas tempat tidur dan memuka lebar pahanya, terlihat gundukan memek dengan rambut-rambut yang tertata rapi.
Bob mulai kembali aksi dengan menjilati menyusuri paha bu Merry yang halus mulus, terus mendekat ke selangkangan menemui bibir memek yang mulai mengeluarkan cairan senggama. Tanpa menunggu lama, Bob menyapu cairan senggama itu dengan lidahnya dan meneruskan penjelajahan lidah sepanjang bibir memek bu Merry dan sesekali menggetarkan lidah pada klitorisnya yang membuat bu Merry mengerang kenikmatan,
”AHHHH…. MMMMH… HHH… Bob….UHH…”desahan birahi yang memuncak dari bu Merry membuat Bob semakin bersemangat dan sesekali lidah di julurkan mencoba masuk ke liang senggama yang menanti pemenuhan itu.
Setelah beberapa menit Bob mengeksplorasi liang kewanitaan itu, nampaknya bu Merry tidak sabar lagi menuntut pemenuhan hasrat birahinya,”Bob…. Ayo sayang… masukkin Bob… hhhh…mmmmh.” Suara bu Merry ditingkahi desahan-desahan yang semakin kencang.
Dengan tenang Bob menyudahi penjelajahan lidah dan bersiap bertempur yang sesungguhnya. Dengan sekali tarik lepaslah handuk yang melilit di pinggang dan bebas mengacung kontol dengan bagian kepala yang merah mengkilap.
Bu Merry semakin membuka lebar pahanya, besiap menanti pemenuhan terhadap liang wanitanya. Bob naik ke tempat tidur dan langsung mengarahkan batang kontol ke arah memek bu Merry yang dengan sigap lansung meraih dan meremas batang kemaluan Bob dan membantu mengarahkannya tepat ke liang memeknya.
Dengan sekali dorongan kontol Bob amblas sampai setengahnya. Bob menahan gerakan sebentar menikmati prosesi masuknya kontol yang disambut desahan bu Merry,” AHHH….TERUSKAN BOB….AHHH.” kemudian dengan meresapi masuknya kontol sampai sedalam-dalamnya.
Setelah dorongan pertama dan batang zakar yang masuk seluruhnya barulah Bob memompa menaik turunkan pantat dengan irama beraturan seakan mengikuti irama musik yang terasa semakin menggebu dan hot.
Bob bertumpu pada kedua siku lengan sedangkan bu Merry mencengkam punggung Bob, meresapi dorongan dan tarikan kontol yang bergerak nikmat di liang senggamanya. Suara desahan bercampur aduk dengan alunan musik dan peluh mulai bercucuran di sekujur tubuh,”AH..AH..AH..MMH…MHH…HHHH.” tak hentinya desahan meluncur dari bibir Bob dan bu Merry.
Sesaat Bob menghentikan gerakan untuk mencoba mengambil nafas segar, bu Merry memeluk Bob dan menggulingkan badan tanpa melepas kontol yang tetap berada di liang memeknya. Dengan posisi di atas dan setengah berjongkok, bu Merry memompa dan menaikturunkan pantatnya dengan badan bertumpu pada lengan.
Sesekali bu Merry memutar pantatnya dan kemudian memasukkan batang zakar Bob lebih dalam. Bob tak diam saja, tangan meremas kedua payudara yang menggantung bebas dan menarik-narik puting susu bu Merry. Suasana makin membara dengan peluh yang bercucuran, sampai saat bu Merry seperti tak sanggup melanjutkan pompaan karena birahi yang hendak mencapai puncak pemenuhan.
Dengan sigap Bob membalikkan posisi, bu Merry kembali berada di bawah, dengan mempercepat tempo dorongan Bob meneruskan pertempuran. “Bob…AHH..AH..AH..UH…TERUS BOB…. AHHH…AHH IBU SAMPAI…BOB….AHHHHHHHHH… MMMMMHHH.” Setelah teriakan tertahan bu Merry mengatup bibirnya menikmati orgasme yang didapat, tubuhnya sedikit bergetar. Bob merasa memek yang mengalami orgasme itu berkedut-kedut seperti menyedot zakarnya.
Bob menikmatinya dengan memutar –mutar pantatnya dan memasukkan lebih dalam lagi batang zakarnya, dan terasa ada dorongan kuat menyelimuti batang zakarnya, semakin besar dan sesaat Bob kembali mendorong batangnya dengan cepat dan saat terakhir menarik keluar batanga zakarnya dan melepaskan air maninya di atas perut bu Merry…. Yang dengan cepat meraih kontol Bob dan mengocoknya sampai air mani itu berhenti muncrat, dengan lembut bu Merry mengusap kontol yang mulai turun ketegangannya. Bob membaringkan tubuhnya disamping bu Merry. Terdiam untuk beberapa saat.
Bu Merry bangkit duduk meraih kain di pinggiran tempat tidur dan menyeka sisa air mani di perutnya. Kemudian dengan manja membaringkan tubuhnya diatas Bob. “makasih ya sayang… ini rahasia kita berdua… I love u Bob,” bisik mesra bu Merry di telinga Bob.
“mmm…baik bu…”belum sempat Bob menyelesaikan ucapannya, jari telunjuk bu Merry menempel di bibirnya, “kalo lagi berdua gini jangan pangil ibu dong…”ucap bu Merry manja.
“iya sayang….” Balas Bob, senyum manis merekah di bibir seksi bu Merry.
Setelah itu dengan cepat Bob dan bu Merry merapikan pakaian, dan sebelum meninggalkan Bob, bu Merry berbisik mesra,”sayang… tar malem suamiku gak ada di rumah….. aku tunggu di kamar ya… berapa ronde pun dilakoni buat Bob sayang.” Sambil berpelukan mesra, Bob menyanggupi ajakan bu Merry.
END
